29Aug

BAZNAS Gandeng Kemenkop UKM RI dan LPDB KUMKM Gelar Diskusi Peluang Permodalan Era New Normal

Pelaku usaha mikro menjadi salah satu dari banyak sektor yang merasakan dampak dari adanya Pandemi Covid–19. Pandemi yang bekepanjangan mengakibatkan omzet yang didapatkan pelaku usaha mikro semakin berkurang. Hal ini mengakibatkan beberapa pelaku usaha merasa kesulitan dalam masalah permodalan.

Pada agenda Microfinance Online Class (MOC), Jumat (28/8/2020), BAZNAS Microfinance sebagai lembaga keuangan nonprofit membahas tentang peluang permodalan usaha di era new normal. Microfinance Online Class kali ini, BAZNAS Microfinance menggandeng Kementerian Koperasi dan UKM RI serta Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM).

Microfinance Online Class diselenggarakan via daring melaui zoom meeting dan disiarkan langsung melalui channel Youtube BAZNAS TV. Narasumber dalam Microfinance Online Class kali ini adalah Dr. Pristiyanto, SS, MM, MP selaku Kepala Bidang Literasi dan Penumbuhan KSPPS/USPPS Koperasi, Kementerian Koperasi dan UKM RI, Ari Permana SE, M.si selaku Kepala Divisi Pembiayaan Syariah II LPDB KUMKM, dan Noor Aziz selaku kepala Lembaga BAZNAS Microfinance (BMFi).

Dalam pemaparannya Kepala Divisi Pembiayaan Syariah II LPDB KUMKM, Ari Permana menyampaikan tujuan program LPDB-KUMKM adalah membantu perkuatan permodalan koperasi & UMKM dalam bentuk pinjaman/pembiayaan. Beliau juga menyampaikan skema program pembiayaan LPDB secara umum kepada Koperasi Simpan Pinjam Pola Syariah (KSPPS) / Unit Simpan Pinjam Pola Syariah (USPPS) dan Koperasi Non Simpan Pinjam.

 “Saat ini prioritas LPDB adalah pemberian dana kepada koperasi supaya pelaku UMKM bisa menjadi anggota koperasi dan dapat mendapat dana dari LPDB, agar nantinya kita memiliki semangat untuk koperasi agar menjadi rumah pembinaan kepada UMKM,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Literasi dan Penumbuhan KSPPS/USPPS Koperasi, Kementerian Koperasi dan UKM RI, Pristiyanto juga menyampaikan bagaimana penyaluran bantuan bagi para pelaku usaha mikro.

“Bantuan ini adalah  untuk membantu usaha mikro yang belum terakses kredit perbankan agar usahanya dapat berjalan kembali dan mampu bertahan menghadapi fase new normal,” katanya.

Pristiyanto menambahkan kriteria penerima bantuan antara lain adalah warga negara Indonesia, memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK), memiliki usaha mikro yang dibuktikan surat usulan calon penerima BPUM dari lembaga pengusul BPUM. Selain itu calon penerima juga bukan merupakan ASN, Anggota TNI, Anggota Polri, dan Pegawai BUMN/BUMD.

“Target sasaran penyaluran adalah sebanyak 12 juta usaha mikro yang tidak sedang menerima kredit perbankan, program ini telah di launching 17 Agustus–Desember 2020 atau sampai terpenuhinya plafond 12 juta usaha mikro,” terangnya.

Pada sesi ketiga kepala Lembaga BAZNAS Microfinance (BMFi) Noor Aziz menyampaikan perlu adanya review permodalan sesuai dengan yang dibutuhkan pada kondisi saat ini.

“Kita perlu menengok modal apa yang saat ini mengalami krisis saat Covid apakah modal kerja, investasi, SDM, ataupun spiritual kita,” ungkap Noor Aziz.

Noor Aziz menambahkan untuk menyikapi kekurangan modal, perlu melihat jenis permodalan yang dibutuhkan.

”Kita perlu melihat jenis permodalan yang sesuai apakah itu permodalan sendiri, hibah, kerjasama ataupun pinjaman agar nantinya tidak menimbulkan masalah,” ujarnya.

Noor Aziz juga menyampaiakan terkait program BAZNAS Microfinance Desa yang diinisiasi oleh BAZNAS Microfinance. Noor Aziz menjelaskan bahwa BMD diinisiasi oleh BAZNAS Microfinance (BMFi) sebagai Layanan Keuangan Mikro Non Profit (Microfinance for Poor) yang memfasilitasi akses permodalan para pelaku usaha mikro.

“Layanan kita ada permodalan, layanan pengembangan usaha, dan ada juga penguatan modal sosial. Harapan kita mitra yang kita dorong bisa tumbuh, berkembang dan berkah,” tutup Noor Aziz.

#MicrofinanceOnlineClass

#BAZNASMicrofinance

#LekasPulihIndonesia

#SemestaKebajikanZakat

Leave a reply